Gua Pecinta Alam?

Melakukan aktivitas di alam bebas merupakan kebahagian yang beda baguku, dibandingkan dengan acara nonton musik di acara festipal atau apalah yang tempatnya biasanya di tengah keramaian kota yang sangat bising. Sedangkan di alam bebas katakan saja hutan atau perkampungan dan dusun, kita bisa nikmati keindahan alam yang bebas dengan udara yang segar dan hangatnya sambutan warga dusun. Sungguh pengalaman yang sangat indah dan berharga bisa mngenal mereka, yang hidupnya dilewati dengan segala kesederhanaan dan kepolosan.

Kenapa aku senang melakukan perjalanan dan pendakian gunung atau bukit, ya karena apa yang aku temukan di gunung tentunya tidak bisa aku dapatkan di supermarket dan tempat nongkrongku dikota. Rinkas kata melakukan petualangan di alam bebas itu adalah aktivitas yang tidak membosankan dan banyak cerita yang bisa kita share pada teman dan orang lain.

Seperti banyak orang mengatakan bahwa orang yang sering beraktivitas di alam bebas bisa di sebut PA (Pecinta Alam), kenapa dibilang begitu mungkin karena di anggap sudah jatuh cinta pada alam atau pecinta alam adalah orang yang peduli kepada alam secara utuh dalam artian selalu membela hak- hak lingkungan hidup. Aku pun juga mo bilang aku adalah pecinta alam hanya karena aku terlalu sering naik turun gunung dan lembah mungkin. Tentunya bebas aja kan orang menyebut dirinya pecinta alam karena untuk ukuran atau standart bagi pecinta alam tidak ada. Baik dia seoarang mahasiswa yang sudah mengikui latihan dasar di mapala, remaja yang bergabung dengan orapala, siswa yang latdas terus jadi anggota sispala, pelang merah indonesia, bahkan pramuka dan orang yang Cuma sekedar hobby naik gunung. Mereka juga berhak mengakku sebagai pecinta alam karena tidak ada yang melarang.

Kembali ke soal pengalaman aku selama ini dalam hal turub naik gunung, mungkin ada baiknya aku ceritakan kapan aku mulai naksir yang namanya gunung dan hutan. Cerita begini, waktu itu aku kenal dengan seoarang pelatih pramuka di smun di martapura yang juga merupakan orang di kampungku. Walaupun sebenarnya satu kampung tapi sebelumnya kami tidak saling tau. Dan lucunya perkenalan kami di karenakan aku sering main radio 2 ban atau brik- brik kan (orari). Dan itu pun setelah cukup lama seringnya berkomunikasi dengan orang tersebut. Lalu pada suatu malam aku disuruhnya datang kerumahnya setelah tau bahwa kita sekampung. Nah dari situ mulai akrab dan aku sering di ajak main ketempat nongkrongnya terus dikenalkan juga dengan teman- temannya yang sampai sekarang tambah akrab. Nah setelah dah akrab, aku di ajak naik ke gunung dengan beberapa temannya. Naik pertama itu aku masih bingung dan canggung juga, sedangkan yang lain sepertinya enjoy dan menikmati sekali. Padahal malam itu dingin dan banyak nyamuk tambah lagi gelab. Namun hanya dengan satu gitar mereka mendangkan lagu yang sangat merdu terdengar di telingaku, sembari disela- sela kekosongan ada yang bercanda gurau menambah hangatnya malam.

Malam itu aku sudah langsung bisa beradapatasi dengan dunia baruku yang tidak ada sebelumnya dalam hidupku, dan aku sangat menikmatinya. Terus sejak saat itu aku mulai ketagihan dan selalu ingin kemabali dan menikmati kilau bintang dari lembah yang disertai dengan hembusan angin malam, paginya menatap pajar yang menyambut hari dengan senyuman namun nampak malu dibalik awan. Oh betapa besar ciptaan Tuhan karena dengan kekuasaannya alam semesta ini diciptakan. Aku puas aku menikmati betapa indah alam itu, yang telah membuat aku lupa akan masalah yang ada. Walaupun waktu itu aku harus berjalan tiga kilometerr namun tak terasa karena segar, sejuk alam yang asli menambah inergi bagiku.

Setelah semakin sering aku kesana dan bahkan setiap akhir pekan aku tidak pernah ketinggalan, tidak perduli modal di kantong cukup atau tidak yang pasti aku harus hadir. Karena kalau ketinggalan ibarat baca buku satu edisi hilang kalau tidak tampil.

Ok akan sangat panjang cerinya kalau semua pengalamanku ditulis, namun secara singkat sudah tergambarkan walau sedikit kenapa aku akhirnya jatuh cinta pada yang namanya alam. Yang membawaku pada sebuah organisasi pecinta alam yang baru berdiri dan namanya adalah KADIPA yang ternyata sekarang sudah angkatan ketujuh. Untuk menjadi anggota aku harus mengikuti latihan dasar. Sampai mendapatkan selayar, punya nomor registerasi anggota dan dilantik.

Cukup dulu cerita organisasinya sekarang aku mau ceritain soal kemana aja aku sudah pijakkan kakiku. Mungkin akan aku mulai dari gunung kahung yang mempunyai air terjun yang cukup indah dengan alamnya yang cantik. Kemudian gunung halau- halau yang ketinggiannya merupakan gunung tertinggi di Kalsel, yang perjalanannya harus di tempuh selama dua hari berjalan kaki dengan melewati lembah dan bukit, sungai, semak berduri. Atau gunung haug yang perjalanannya harus di lewati dengan lutut yang hampir menyentuh muka (wajah). Sungai durian dengan hutan belantaranya yang menyebabkan aku harus sakit selama dua bulan sepulangnya. Dan tentunya masih banyak lagi pegunungan di Kalsel. Namun ada juga yang lumayan berkesan saat ekspidisi di Sulawesi Selatan (Ujung pandang). Disana lebih parah lagi, waktu perjalanan ditempuh lima hari dengan berjalan kaki. Waktu itu rutenya adalah maros ke malino, karena aku juga nebeng ma anak- anak disana yang kebetulan mau diksar dan melakukan survey, aku manfaatin aja buat ikutan, biar tau aja gimana rasanya pendakian di tempat orang. Ternyata asyik juga, karena berbagai ragam budaya, kampung dusun yang di lewati, sangat menarik. Namun sayang aku tidak bisa naik ke gunung Bawakaraeng karena saat itu ada kebakaran.

Dalam tulisan ini hanya sdikit cerita yang dapat aku tulis karena tidak semua hal atau kejadian yang dapat aku ingat. Dan karena aku juga sangat susah menuangkan cerita dalam tulisan….

10 Responses to “Gua Pecinta Alam?”

  1. mataharicinta Says:

    waktu baca ini sayah teringat quote (gak tau yag ngomong siapa)
    tapi bunyinya gini:
    “sebuah bangsa gak akan pernah keabisan pemimpin jika para pemudanya senang bergaul dengan hutan, gunung dan laut yang ada dalam tanah bangsanya”

    semoga mas bindrang kelak juga menjadi salah satu dari para pemimpin itu:)

  2. Bindrang Says:

    waktu baca ini sayah teringat quote (gak tau yag ngomong siapa)
    tapi bunyinya gini:
    “sebuah bangsa gak akan pernah keabisan pemimpin jika para pemudanya senang bergaul dengan hutan, gunung dan laut yang ada dalam tanah bangsanya”

    semoga mas bindrang kelak juga menjadi salah satu dari para pemimpin itu:)”

    iya mba, mudah- mudahan memang seperti itu, dan saya berharap, saya adalah orang kesekiannya saja yang mencintai lingkungan (hutan, gunung). artinya gak sedikit orang yang seperti saya. dan yang terpenting lagi mudah- mudahan apa yang saya lakukan, dapat membawa nilai positif terhadap lingkungan…

  3. noviaaa Says:

    wah… aku juga pecinta alam nih.. suka gunung, laut dan hutan
    udah pernah mendaki G.GEDE belum?? waw, keren banget lho…
    eh, temen2ku tanggal 11 Agustus ini mau pergi mendaki ke gunung Mahameru..Tertinggi di Jawa lho *tunggu, Mahameru atau semeru ya*, klo mau gabung, segera kontak yah..
    klo ga, juga gapapa ^-^

  4. Bindrang Says:

    noviaaa”
    11 Agustus ini mau pergi mendaki.) benernya seh mau banget, tapi kebetulan dikalsel juga ada pendakian bersama, kegunung halau- halau (paling tinggi dikalsel). jadinya ngga bisa kemana- mana, karena kebetulan juga aku diminta ngebantu panitia neh.

    oh iya aku mau tanya.. apa nama organisasi kamu?

  5. add more tree Says:

    Salam pecinta alam,!! sudah lama sekali tidak membaca tentang kenangan menikmati indahnya alam pegunungan, sayang masih banyak para “pecinta alam” yang naik gunung tidak mempedulikan kebersihan. Sampah-sampah makanan sering ditinggal begitu saja, sehingga gunung terlihat kotor oleh tangan “pecinta alam” sendiri.

  6. Bindrang Says:

    Salam Lestari… saudaraku saya sangat setuju sekali kalau para pecinta alam masih banyak yang tidak sadar kalau sudah turut serta dalam proses pencemaran lingkungan. pengalaman saya ketika kemarin pendakian bersama ke gunung tertinggi di Kalsel (G. Halau halau Kab. HST) di sana saya liat banyak sekali di sepanjang jalur pendakian sampah sampah plastik sisa makanan yang di buang begitu saja. sangat di sayangkan,, dan yang paling parah lagi para kawan- kawan pecinta alam banyak yang pulang bawa oleh oleh dengan mengambil tanaman anggrek yang ada di sekitar puncak. saya sedih dan miris sekali melihat kenyataan ini😦

  7. rasikin Says:

    aku dukung orang yang selalu melestarikan lingkungan hidup, karena aku dan mahkluk lainnya ingin hidup seribu taon lagi !!!!!!!!

  8. Bindrang Says:

    to rasikin, salam lestari..
    mulailah dari kita dulu jika ingin selamatkan lingkungan. tidak membuang sampah sembarangan, kurangi menggunakan bahan yang tidak mudah rusak seperti plastik dan kurangi pennggunaan tisyu yang berlebihan karena sehelai tisyu sama dengan sebatang pohon harus di korbankan. dan masih banyak lagi upaya yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan lingkungan…

  9. toto chan Says:

    tanpa alam kita tak kan bisa hidup…………
    maka kita wajib menghargai alam…………
    menjaga, menyayangi, dan melestarikan…………
    oce?

  10. Ruang KM. 20 Says:

    sebuah bangsa gak akan pernah keabisan pemimpin jika para pemudanya senang bergaul dengan hutan, gunung dan laut yang ada dalam tanah bangsanya” ini ada di buku “5 cm” tentag pendakian ke Semeru. kapan bang ke halau-halau lg? sy orang HST tp belum pernah menginjakkan kaki di tanah tertinggi kalsel.
    lestari!!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: