Asal ngomong

Hari ini aku lihat dimana- mana di SPBU begitu panjang antrian para pengendara yang mo mengisi bahan bakarnya. katanya seh langka…. katanya seh pemerintah sengaja mengurangi distribusi bahan bakar biar mengurangi emisi. tapi apa bener tuh langka….? apa bener tuh upaya pengurangan emisi. kalau iya langka kenapa ngga di hemat aja, batasin dong jumlah pembelian. jangan sampai ada yang menimbun, kaya tadi siang ku-lihat banyak aja tuh pedagang bensin eceran yang bawa tangki/ giregen masih aja dilayani. padahal mereka tuh menurut saya ada indikasi ke penimbunan, karena mereka tau sekarang lagi susah nyari bensin. kenapa saya bilang mahal.. karena hari ini aku beli bensin di eceran seharga Rp 7000,./liternya. terus kalau mau mengurangi emisi kendaraan bermotor, batasin aja penjualan mobil dan motor. jangan prosuksi aja terus.

Memang kalau orang kecil yang ngomong, ya.. kayak gini.. ngga di denger. sampai kapan kita harus seperti ini, jadi permainan para penguasa bisnis yang selalu mengorbankan rakyat demi kepentingannya.

Negara ini sebenarnya maunya apa ya? masa untuk menuntut hak saja kita haru demo dulu. mau ngisi bensin kudu ngantri berjam- jam.

Mungkin kita tunggu saja ledakan kemarahan rakyat yang diwujudkan dengan tidak di anggapnya lagi keberdaan pemerintah. atau mungkin yang lebih buruk akan adalagi revormasi.

tolong yang baca artikel ini sambil senyum aja ya…

Stop Penjualan Meratus ke Industri

Minggu, 09-12-2007 | 01:20:53
  • Negara Berkembang seperti Tank Negara Industri

BANJARBARU, BPOST – Konfrensi internasional pemanasan global (Conference of Parties of the United Nations Framework Convention on Climate Change/COP 13 UNFCCC) di Bali 3 sampai 14 Desember ini dinilai tak memihak pada kelestarian lingkungan.

Sebaliknya, pertemuan tersebut justru melahirkan dagelan lingkungan yang dimainkan oleh kelompok industri besar di negara maju dengan dalih perdagangan karbon tak terkecuali hutan Meratus di Kalsel.

Sebanyak 10 organisasi pecinta alam di Kalsel melakukan aksi damai menolak kebijakan tersebut Sabtu (8/12). Aksi digelar Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel, Green Student Movement (GSM), Sahabat Walhi (sawa), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Juga diikutu Mapala Graminea, Mapala Fakultas Teknik Unlam, Mapala STIBA, Himpunan Petani Palam (Himpal), Forum Pedagang Kaki Lima Murjani (Forkamu) dan Persatuan Pedagang Kaki Lima Panglima Batur (Perkabat).

Selain menyebarkan selebaran berupa imbauan menolak perdagangan karbon di jalan A Yani kilometer 34 depan Taman Air Mancur Banjarbaru, para aktivis lingkungan itu juga menggelar teatrikal. Puluhan aktivis terlihat meresapi vitalnya Meratus bagi kehidupan rakyat Kalsel.abu.jpg

Aksi diawali ketika kehidupan alam pada gugusan hutan Pegunungan Meratus aman dan tentram yang ditunjukkan dengan enam orang berpakaian dengan tulisan huruf-huruf merangkai kata Meratus. Kondisi ini dilihat dari betapa gembiranya penduduk di sekitarnya, bernyanyi dengan wajah berseri-seri.

Namun kegembiraan itu berubah seketika ketika ada perusak lingkungan yang digambarkan dengan sosok setan dengan wajah hitam legam mengobar-abrik kawasan Meratus.

Setiap jengkal lahan di Meratus dicaplok dengan beringasnya demi kepentingan industri, di sinilah perdagangan karbon dideskripsikan sangat merusak kehidupan.

Rakhmad Mulyadi koordinator aksi menyatakan aksi dilakukan serentak se Indonesia. Setiap daerah mengusung tema yang sama dengan cakupan lokalnya masing-masing.

“Penyelamatan hutan Meratus adalah harga mati. Kedepankan rakyat dan selamatkan tanpa melalui mekanisme pasar dengan menjual kawasan tersebut kepada negara industri di Utara beserta perusahaannya demi eksploitasi. Walau itu dengan label konservasi,” tegasnya. niz